Tampilkan postingan dengan label Hidrolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidrolik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 September 2017

Hydraulyc Control Valve Pada Alat Berat

Hidraulic control valve adalah salah satu komponen system hydraulic  yang berfungsi untuk menaikkan tekanan, mengatur jumlah dan arah aliran oli yang diisap hydraulic pump dari hydraulic tank untuk mengoperasikan unit alat berat.  Berdasarkan fungsinya hydraulic control valve terbagi atas 3 macam yaitu pressure control valve, directional control valve, dan flow control valve.

1. Pressure Control Valve (Katup Pengontrol Tekanan)
Pressure control valve adalah jenis katup dalam system hidrolik yang berfungsi untuk mengontrol tekanan dengan cara mengembalikan semua atau sebagian oli ke tangki apabila tekanan dalam system hidrolik batas tekanan yang telah diatur. Pressure control valve terbagi atas 3 jenis yaitu tipe poppet, tipe pilot, dan tipe piston.
Tipe Poppet
Kontruksinya terdiri dari valve, spring dan andjusting screw beserta shim/nut.

Tipe Piston
Kontruksi pressure control valve tipe piston dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Tipe Pilot
Kontruksi dari tipe pilot ini dapat dilihat gambar dibawah ini.

Pressure ControlValve, juga dikenal dengan nama relief valve. Fungsi relief valve adalah untuk memberi perlindungan atau membatasi tekanan maksimum kepada sistem hidrolik sehingga komponen sistem tidak mengalami malfungsi, macet atau terbakar dan line / hose tidak terbakar atau bocor pada persambungan. Relief valve ini menjalankan fungsinya dengan cara memberikan jalan bagi zat cair sistem untuk dibelokkan ke reservoir ketika pengaturan tekanan valve telah dicapai.

Bukaan dari relief valve ini dicapai ketika tekanan zat cair pada sistem telah melebihi pengaturan oleh kekuatan spring pada relief valve. Spring yang menahan relief valve berada pada posisi tertutup / close.

 Ketika tekanan zat cair naik mencapai tingkat yang melebihi kekuatan spring, maka relief valve akan membuka dan membuka aliran ke reservoir. Inilah yang dimaksud dengan relief, atau membatasi, yaitu melepaskan tekanan zat cair dalam sistem menurut nilai kekuatan spring dalam relief valve.

2. Flow Control Valve (Katup Pengontrol Aliran)

Flow control valve adalah katup yang berfungsi mengatur aliran oli yang masuk ke komponen actuator. Berbagai jenis katup yang termasuk ke dalamn jenis flow control valve antara lain throttle valve, vacuum valve, flow chek valve, demand valve, dan quick drop valve.

Thottle valve, berfungsi untuk mengalirkan oli ke dua arah yang arah aliran kembali diperkecil, sehingga volume oli yang mengalir menjadi kecil. Throttle valve banyak digunakan pada lift silinder.

Vacuum valve, berfungsi untuk mencegah kevakuman di dalam system hidrolik. Biasanya terletak antara actuator dan control valve. Nama lain vacuum valve adalah suction valve, intake valve, suction return valve, atau antivoid valve.


Flow chek valve atau flow reducing valve, berfungsi untuk mengurangi jumlah oli yang mengalir ke actuator sehingga gerakan actuator menjadi lambat sesuai dengan beban. Contoh pemakian flow reducing valve ialah pada tilt silinder pada bulldozer.




Flow Divider Valve, berfungsi untuk membagi aliran oli dari pompa menjadi dua aliran dimana yang salah satu alirannya adalah konstan. Contoh pemakaian flow divinder ini ialah pada motor grader. Konstrusinya terlihat pada gambar dibawah ni.

Demand Valve, berfungsi untuk menjaga aliran oli yang mengalir ke system steering selalu konstan. Demand valve banyak digunakan  pada wheel loader dan dump truck.


Quick Drop Valve, berfungsi untuk mempercepat penurunan blade pada waktu control valve pada posisi lower, dimana oli dari sisi cylinder head dialirkan ke bottom cylinder. Contoh pemakaian katup ini adalah  pada lift silinder (bulldozer).


3. Directional Control Valve (Katup Pengontrol Arah aliran)

Directional Control Valve berfungsi untuk mengontrol atau mengatur arah gerakan aktuator dengan merubah arah aliran oli atau memutuskan aliran oli.
Contoh directional control valve yaitu :
katup 3/2, penggerak manual/lever.




Katup pengarah di bawah ini disebut katup 3/2, penggerak manual/lever.
Artinya pada katup ini terdapat 3 (tiga) saluran (lubang), mempunyai dua posisi yaitu posisi netral (sebelum dioperasikan) dan posisi ON setelah dioperasikan untuk menggerakkan aktuator. Katup ini beroperasinya digerakkan secara manual oleh tuas atau lever.

Katup 4/3, penggerak lever dengan penahan.(4/3, DCV, manually with detent
Saluran-salurannya atau lubang (port) diberi nama sebagai berikut:
·         Saluran P atau 1 adalah saluran masuk yaitu cairan hidrolik dari pompa
masuk ke katup .
·         Saluran A dan B atau 2 dan 4 adalah saluran operasional yang
menghubungkan katup ke/dari aktuator.
·         Saluran T atau 3 adalah saluran buang yang menghubungkan katup
dengan tangki hidrolik. Pada katup ini posisi netral adalah posisi tengah.

Air Pilot-Actuated, Three-Position, Spring-Centered, Four-Way Valve



Single Solenoid-Actuated, Four-Way, Two-Position, Spring Offset DCV


CHECK VALVE
check valve ini memungkinkan aliran oli dalam satu arah, namun mencegah aliran oli dari arah yang sebaliknya. Check valve ini sering disebut sebagai check valve satu arah / one way.


Jenis katup kontrol multiple directional
Katup kontrol multiple directional diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yakni rangkaian paralel, seri dan tandem.
Rangkaian Paralel
Rangkaian paralel adalah suatu rangkaian dimana port katup pengubah multiple tekanan dihubungkan secara paralel. Walaupun katup dapat dioperasikan secara simultan, namun aktuator tekanan beban yang lebih kecil yang akan pertama kali beroperasi karena oli mengalir ke dalam aktuator tekanan beban yang lebih kecil. Oleh karena itu, apabila terjadi fluktuasi beban, maka aktuator yang tidak diharapkan bisa beroperasi. Selanjutnya, dalam hal ini, tekanan oli yang dibangkitkan oleh beban berat dapat mengalir kembali dan mengoperasikan aktuator, dan perlu diberikan check valve beban untuk menghindari insiden ini.

Rangkaian tandem
Rangkaian tandem tidak dapat mengoperasikan aktuator multiple secara simultan. Bahkan apabila aktuator multiple dioperasikan secara simultan, karena oli yang mengalir mengoperasikan aktuator pada pompa ke arah upstream dan kembali ke tangki, maka aktuator pada pompa ke arah downstream tidak dapat beroperasi. Apabila perlu mengoperasikan secara simultan dengan menggunakan semua alat, maka torak pipa yang ke arah upstream akan dirubah sedikit ke posisi netral dari posisi naik dan turun untuk mengalirkan oli ke torak pipa yang mengarah kebawah dan pada saat yang sama torak pipa ke hilir akan dipasang pada posisi naik dan turun. Sehingga kemungkinan dua silinder bisa beroperasi secara simultan.


Rangkaian seri
Rangkaian seri adalah suatu rangkaian dimana oli pembalik dari actuator upstream mengalir ke dalam port aktuator downstream pompa dan terus mengoperasikan aktuator ini. Oleh karena itu, memungkinkan untuk mengoperasikan lebih dari dua aktuator yang terlepas dari beban yang terpakai. Namun demikian, rangkaian ini tidak beroperasi kecuali jika total tekanan operasi pada operasi simultan tidak berada dibawah tekanan katup relif utama yang telah ditentukan.

Demikian pembahasan jenis katup pada alat berat, semoga bermanfaat.
















Rabu, 30 Agustus 2017

Jenis Selinder Hidrolik

Pengertian Silinder Hidrolik
Silinder Hidrolik adalah merupakan unit penggerak atau actuator pada system hidrolik alat berat yang berfungsi untuk mengubah tenaga fluida menjadi tenaga mekanik atau gerak.

Jenis Silinder Hidrolik
Berdasarkan sistem kerjanya silinder hidrolik terdiri atas Single acting Cylinder (silinder kerja tunggal) dan Double acting Cylinder (silinder kerja ganda).

Silinder Kerja Tunggal
Silinder ini disebut kerja tunggal (Ram) karena pada penggunaan cairan hidrolik hanya pada satu sisi piston saja.

Konstruksi

Konstruksi Silinder kerja tunggal terlihat pada gambar di bawah.
Prinsip kerja.
Jika rangkaian atau system hidrolik mulai bekerja maka cairan hidrolik masuk dan menekan dari sisi kiri sehingga torak bergerak ke kanan. Selanjutnya pergeseran piston telah mencapai posisi yang dikehendaki dan  cairan hidrolik tidak ada tekanan lagi, Maka plunyer kembali oleh adanya bobot dari benda yang di angkat atau  digeser. Untuk pengembalian torak ke posisi semula ada juga yang dilengkapi dengan pegas pembalik. Pemakaian silinder kerja tunggal ini digunakan pada dongkrak atau alat pembengkok pipa, crane truck dan crane boom .

Simbol silinder kerja tunggal tampak pada gambar dibawah.

Silinder Kerja Ganda
Ini merupakan aktuator system hidrolik yang paling banyak dipergunakan dalam peralatan bergerak sekarang ini. Silinder ini digunakan dalam pengimplementasian, pengemudian dan sistem lain dimana dibutuhkan silinder untuk melakukan kerja dalam dua arah.
Konstruksi
Konstruksi Silider kerja ganda seperti terlihat pada gambar

Prinsip kerja.
Jika sistem mulai bekerja maka suatu waktu cairan hidrolik masuk dan menekan dari sisi kiri sehingga torak bergerak ke kanan, bersamaan dengan itu pada sisi kanan torak cairan hidrolik tertekan dan keluar dari dalam silider selanjutnya masuk ke reservoir (Langkah 1). Sebaliknya jika menghendaki torak bergerak ke posisi semula (kiri) maka cairan hidrolik harus masuk dari sisi kanan torak, maka cairan hidrolik yang ada di sisi kiri torak akan bergerak keluar dari torak (Langkah 2). Silinder kerja ganda dapat digunakan jika menghendaki gerakan bolak-balik seperti pada mesin perkakas.

Demikian pembahasan tentang selinder hidrolik, semoga bermanfaat.


Jumat, 25 Agustus 2017

Hidraulic Hose Pada Alat Berat

Hydraulic Hose Pada Alat Berat

Hydraulic Hose atau slang hidrolik adalah salah satu komponen system hidrolik pada unit alat berat yang berfungsi sebagai penghantar oli hidrolik sesuai dengan tekanan yang diperlukan keseluruh bagian Unit untuk menggerakkan actuator. Lamanya pemakaian hidrolik Hose dipengaruhi oleh cuaca, sinar matahari, bahan-bahan kimia, kondisi pengoperasian atau kesalahan selama pengoperasian atau dalam hal penyimpanan.

Hose terdiri dari lapisan-lapisan empat komponen utama, yaitu inner tube, wire cushion, reinforcement layer dan cover. Lapisan dalam disebut inner tube atau layer berfungsi untuk membawa dan tempat mengalirnya fluida.

 Lapisan kedua adalah lapisan penguat (reinforcement layer) yang berfungsi untuk memberikan kekuatan pada hose. Lapisan penguat dapat terbuat dari kapas, material sintetis atau kawat. Kapas dan bahan sintetis biasanya dianyam, sedangkan kawat dapat dianyam atau dibelit secara spiral. Beberapa hose mempunyai banyak lapisan yang diperkuat dengan menggunakan bahan-bahan yang berbeda yang terdiri dari kapas dan kawat.

Lapisan ketiga adalah cushion, cushion berfungsi sebagai lapisan yang mengurangi gesekan. Lapisan cushion mengurangi kemungkinan kawat menjadi kaku yang dapat menyebabkan kerusakan-kerusakan lubang pin pada inner tube.

Lapisan akhir adalah penutup atau cover. Penutup atau cover ini berfungsi melindungi hose dari kerusakan dari luar dan lingkungan atau cuaca,  Penutup terbuat dari kawat baja, plastik atau kain.

 Tips Pemasangan Hidraulic Hose
Ada beberapa tips cara pemasangan hidraulic hose yaitu :
1. Pemasangan hose jangan terlalu tegang karena hose di pengaruhi oleh suhu, tekanan, aliran dan kontraksi dari luar, yang bisa mengakibatkan hose rusak/bocor.
2. Radius bengkokan slang hidrolik jangan terlalu kecil karena mengakibatkan aliran turbulen karena membentuk sudut yang kecil.

3. Dalam pemasangannya, slang hidrolik tidak boleh terlalu tegang harus di beri celah, agar hose ada tempat untuk mengembang pada waktu suhu tinggi, dan ada ruang untuk hose menyusut pada suhu rendah.

4. Ikat atau pasang clem pada slang hidrolik yang sudah terpasang agar slang tidak  tersentak dan bergerak bila mendapat beban yang tinggi.

Persyaratan penggantian hose hidraulic
Ketika mengganti sebuah hose, hose yang baru harus memenuhi beberapa kondisi. Kondisi-kondisi ini meliputi ukuran hose, pressure kerja maksimum, rentang temperatur operasi, kompatibilitas fluida, radius bengkokan maksimum, dan kondisi-kondisi lingkungan. Hose yang baru harus memenuhi bahkan boleh melebihi spesifikasi yang hose yang lama.

Hose yang baru harus memiliki ukuran yang sama dengan hose yang lama agar dapat beroperasi dalam sistem hidrolik sesuai spesifikasi rancangan. Hose-hose yang lebih kecil dapat mengendalikan aliran yang kecil dan hose yang lebih besar dapat mengendalikan aliran yang lebih besar. Apabila hose terlalu kecil maka ia dapat mengurangi kapasitas aliran sehingga meningkatkan temperatur dalam sistem hidrolik. Begitu juga hose yang terlalu besar dapat memperlambat respon waktu sistem.

Sistem-sistem hidrolik dirancang untuk beroperasi pada pressure yang spesifik. Hose harus dapat bertahan terhadap pressure yang konstan dan pressure kejut. Menggunakan hose yang baru di atas pressure kerja maksimum hose yang lama akan meningkatkan potensi bagi kerusakan. Pressure kerja maksimum sama dengan ¼ kali pressure burst (ledakan) minimum.

Tube bagian dalam dari hose memiliki suatu rentang frekuensi yang tetap dimana ia harus bekerja dan hanya dapat mengalirkan fluida yang spesifik. Liner-liner dari hose-hose yang berbeda seringkali juga terbuat dari bahan-bahan yang berbeda pula. Menggunakan hose di luar rentang temperatur spesifiknya atau menggunakan fluida yang tidak cocok akan mengurangi umur pemakaian hose.

Radius bengkokan minimum hose mengacu pada bengkokan yang terbesar yang dapat diperbolehkan pada saat penggunaan. Jika dibengkokkan lebih jauh, hose dapat rusak (atau kaku) dan dapat mengurangi umur pemakaian. Konstruksi hose adalah faktor utama yang mempengaruhi radius bengkokan minimum. Radius bengkokan minimum akan menimbulkan masalah besar jika hose itu pendek.

Faktor yang terakhir adalah kondisi-kondisi lingkungan dimana hose itu akan digunakan. Bahan untuk cover hose dirancang agar dapat digunakan dalam aplikasi-aplikasi tertentu. Memaparkan hose pada temperatur yang tinggi  atau dalam kondisi-kondisi sekitar yang keras, diluar disain operasi dapat menyebabkan kerusakan hose lebih awal.

Hose sebaiknya diganti jika sudah terpelintir, kaku, pecah, atau penyok.

Demikian pembahasan tentang hose hydraulic, semoga bermanfaat.
















Minggu, 18 Desember 2016

Tipe Oli Hidrolik

       Salah satu fungsi oli hidrolik adalah memidahkan tenaga dari satu area ke area yang lainnya. Pemilihan oli hidrolik yang tepat harus tergantung kepada aplikasi dan kondisi operasi. Berikut tipe-tipe oli hidrolik yang digunakan pada sistem hidrolik :

Petroleum oil

          Semua petroleum oil akan menjadi encer ketika temperatur meningkat dan menjadi kental ketika temperatur turun. Jika kekentalan terlalu rendah, kebocoran yang besar dapat terjadi pada seal dan sambungan. Jika Viscosity terlalu tinggi, operasi unit akan terasa berat dan tambahan tenaga dibutuhkan untuk mendorong oli menuju sistem.

Viscosity dari petroleum oli ditentukan dengan nomor Society of Automotive Engineers (SAE) seperti: 5W, 10W, 20W, 30W, 40W, dsb. Semakin rendah nomornya, semakin baik oli tersebut mengalir pada temperatur rendah.

Semakin tinggi nomornya, semakin kental oli dan lebih cocok dipakai temperatur pada temperatur tinggi. Kekentalan dengan standard ISO menggunakan satuan mm2/S, disebut juga centiStokes (cSt).


Oli sintetis

          Sintetis oli dibuat dengan proses reaksi kimia beberapa bahan dengan komposisi tertentu untuk menghasilkan campuran yang direncanakan dan bahan dasar yang

dapat dipresiksi. Sintetis oli secara spesifik dicampur untuk kondisi operasi yang pada temperatur dingin dan panas yang extrim.


Fluida tahan api

          Terdapat tiga tipe dasar fluida anti terbakar (fire resistant fluida): water-glycol, water-oli emulsion dan sintetis. Digunakan pada situasi yang memiliki resiko kebakaran tinggi seperti pada underground mining, pengolahan baja dan sumur minyak.


Water-glycol 
mengandung 35% hingga 50% air, glycol (bahan kimia sintetis mirip dengan anti-freeze) dan water thickener. Additive ditambahkan untuk meningkatkan pelumasan, pencegah karat, korosi dan buih (foam). Fluida water-glycol lebih berat dari oli dan dapat menyebabkan kavitasi pompa. (pembentukan dan pecahnya gelembung uap pada oli hidrolik), menyebabkan erosi dan pitting pada permukaan metal saat kecepatan tinggi. Fluida ini akan bereaksi dengan berbagai logam dan tidak dapat digunakan bersama-sama dengan beberapa tipe cat.


Water-oli emulsion 
Water-oli emulsion merupakan fluida tahan api yang paling murah. Hampir sama yaitu sekitar (40%) air digunakan seperti pada fluida water-glycol untuk mencegah kebakaran. Water-oli dapat digunakan pada oli sistem yang umum. Additive dapat ditambahkan untuk mencegah karat dan terbentuknya buih.



Pemeliharaan Cairan Hidrolik

          Agar unit atau peralatan yang menggunakan sistem hidrolik bekerja sengan baik dan optimal, maka sangat perlu untuk merawat komponen-komponennya. Cairan hidrolik adalah salah satu bagian penting dari sistem hidrolik, adapun cara pemeliharaan cairan hidrolik yakni :

(1) Cara menyimpan dan memindahkan.

- Simpanlah drum cairan hidrolik di bawah atap

- Sebelum membuka drum bersihkan bagian atas agar kotoran tidak masuk

- Guanakan girigen (wadah) dan slang yang bersih. Serta menyaring oli                    terlebih dahulu sebelum memasukkan ke dalam reservoir.

- Pelihara dari kelembaman dan pencemaran oleh pengembunan


(2) Cara memelihara oli waktu bekerja

- Cegah pencemaran oli dengan menjaga dari gaian-bagian rangkaian tetap    terpasang kuat dan sistem saringan yang baik.

- Jadwalkan penggantian oli agar oli diganti sebelum rusak total

Demikian tentang tipe oli dan pemeliharaan oli hidrolik, semoga bermanfaat.

Jenis-Jenis Hidraulik Pump Pada Alat Berat

Prinsip kerja Pompa hidrolik mengubah energi mekanik menjadi energi hidrolik. Pompa ini merupakan alat yang mengambil energi dari suatu sumber (misalnya mesin, motor elektrik dan lain-lain) dan mengubah energi tersebut menjadi energi hidrolik.

Fungsi pompa ini adalah untuk memasok sistem hidrolik dengan aliran oli yang mencukupi sehingga sirkuitnya mampu beroperasi pada kecepatan yang benar.
Pompa dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu : Positive displacement dan  Non Positive displacement.
1. Positive displacement
Positive displacement pump mempunyai clearance diantara komponen-komponen-nya lebih kecil. Ini akan mengurangi kebocoran dan menghasilkan efficiency yang lebih baik saat digunakan pada high pressure hydraulic system. Output flow pada positive displacement pump pada dasarnya sama untuk setiap putaran pompa. Ada 3  type dari Positive displacement pump yaitu: Gear, Vane, dan Piston.

a. Gear Pump
Pompa ini mampu memompa sejumlah oli yang sama untuk tiap revolusi shaft input-nya. Perubahan kecepatan rotasinya mampu mengendalikan jumlah output pompa. Maximum tekanan operasi yang dapat dibatasi pompa ini mencapai 27.579 kPa (4000 psi). Batasan tekanan ini karena adanya ketidakseimbangan hidrolik yang ada dalam rancangannya. Ketidakseimbangan hidrolik menciptakan beban sisi pada shaft yang ditahan dengan adanya bearing dan gigi gear ke kontak housing. Pompa gear mampu mempertahankan efisiensi diatas 90% ketika tekanan tetap dijaga dalam range pressure pengoperasian yang ditentukan. 

Outlet flow dari sebuah gear pump dihasilkan dengan mendorong oil keluar dari roda gigi pada saat bertemu di sisi outlet. Hambatan pada oil flow akan menghasilkan pressure pada sisi outlet. Ketidakseimbangan dari gear pump lebih disebabkan karena pressure yang ada di outlet port lebih tinggi dari inlet port. Pressure yang lebih tinggi pada outlet port ini akan mendorong gear ke arah sisi inlet port. Dengan demikian maka shaft bearing akan menerima sebagian besar beban untuk mencegah keausan yang berlebihan antara puncak roda gigi dan housing-nya. Pada pressure yang lebih tinggi, gear shaft akan sedikit miring ke arah roda gigi. Hal ini akan memungkinkan kontak antara shaft dan bearing yang akan mengakibatkan shaft menjadi sedikit bengkok bila terjadi pressure yang tidak balance.

Oli yang bertekanan juga diarahkan diantara sealed area dari pressure balance plate dan housing-nya. Ukuran dari sealed area diantara pressure balance plate dan housing-nya adalah apa yang membatasi jumlah force yang menekan plate terhadap ujung daripada gear.

b. Vane Pumps

 Pump output pada vane pump ada2  yaitu fixed dan variabel. Komponen-komponen vane pump yaitu : housing (1), Cartridge (2), mounting plate (3), mounting plate seal (4), cartridge seal (5), cartridge back-up rings (6), snap ring (7), serta input shaft dan bearing (8). Cartridge terdiri dari support plate (9), ring (10), flex plate (11), slotted rotor (12), dan vane (13). 


Slotted rotor diputar oleh input shaft. Vane bergerak masuk dan keluar pada slot yang ada di dalam rotor dan menge-seal pada ujung luarnya terhadap cam ring. Ring yang ada di dalam fixed pump displacement berbentuk elips, sedangkan ring yang ada didalam variable pump displacement berbentuk lingkaran/bundar. Flex plate menutup sisi dari rotor dan ujung-ujung vane-nya. Dalam beberapa design pressure rendah, support plates dan housing menge-seal sisi dari rotating rotor dan ujung-ujung vane. Support plate digunakan untuk mengarahkan ke passage-passage yang ada di dalm housing. Housing juga berfungsi sebagai support untuk komponen-komponen yang lain dari vane pump, mengarahkan flow masuk dan keluar vane pump.

Pada saat rotor berputar di dalam cam ring-nya, vane keluar masuk di dalam rotor slot untuk menjaga sealing terhadap ring-nya. Pada saat vane bergerak keluar dari slotted rotor, terjadi perubahan volume diantara vane-nya. Semakin besar jarak antara ring dan rotor, semakin besar pula volume yang ditimbulkan. Volume yang membesar akan menimbulkan sedikit ke-vaccum-an yang memungkinkan inlet oil ditekan menuju ke ruang di antara vane oleh tekanan atmosphere atau tank pressure. Bilamana rotor terus berputar, maka jarak antara ring dan rotor juga akan semakin kecil. Hal ini mengakibatkan volume yang ada juga akan semakin mengecil. Hal ini memungkinkan oil ditekan keluar dari segment rotor menuju ke outlet passage dari pompa.

c. Piston Pumps
Ada 2 jenis piston pump yang dikenal yaitu Axial Piston Pump, dan Radial Piston Pump. Pada fixed displacement Axial Piston Pump, piston bergerak lurus maju dan mundur parallel dengan shaft-nya. Pada variable displacement Axial Piston Pump atau motor, swashplate atau barrel dan port plate-nya juga bergerak maju dan mundur merubah sudutnya sendiri terhadap shaft-nya. Perubahan sudut ini membuat pump flow bervariasi antara minimum dan maksimum setting meskipun shaft speed-nya konstan.

Pompa bergerak maju mundur dalam garis linear yang hampir parallel dengan bagian tengah shaft-nya. Dalam pompa piston straight housing, piston berada pada swashplate yang berbentuk wedge tetap. Sudut dari swashplate ini mengendalikan jarak gerakan keluar masuk piston ke ruanggan barrel. Makin besar sudut wedge-shaped swashplate, maka makin besar pula jarak pergerakan piston dan makin besar pula output pompa untuk tiap revolusinya.

Dalam variable axial piston pump positive displacement, baik swashplate maupun barrel dan port plate-nya dapat berputar maju mundur untuk mengubah sudutnya terhadap shaft. Perubahan sudut ini menyebatkan aliran output bervariasi antara pengaturan minimal dan maksimal meskipun kecepatan shaft tetap konstan.

Cylinder Barrel diputar oleh shaft dan membawa piston masuk dan keluar. Pada saat piston masuk maka ruangan antara piston dan barrel semakin membesar. Perbesaran ini mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan sehingga oli masuk kedalam pompa. Pergerakkan masuk piston ini adalah mengikuti kontur dari swashplate. Setengah putaran berikutnya piston bergerak keluar dan menekan oli ke luar pompa. Selama terjadi perbedaan ukuran ruang antara piston dan barrel maka piston selalu menghasilkan displacement oli. 


2. Non-Positive Displacement Pump
Aliran keluar dari pompa non positive displacement ter-gantung pada hambatan pada inlet dan outlet. Makin besar hambatannya pada outlet side, maka makin kecil aliran yang dikeluarkan pompa. Sentrifugal impeller merupakan contoh dari pompa non positive displacement dan terdiri dari dua bagian dasar, yaitu: impeller yang terpasang pada shaft input dan housing. Impeller ini memiliki solid disc dengan bilah lengkung/curved blades yang berada pada sisi inputnya. Zat cair memasuki bagian tengah housing dekat input shaft dan mengalir masuk ke impeller. Bilah lengkung impeller memutar zat cair ke arah luar melawan housing. Housing dibentuk untuk mengarahkan oli ke outlet port.

Non-positive displacement pump mempunyai efisiensi yang lebih rendah bila dibandingkan dengan positive displacement pump karena output flow dari pompa akan turun secara drastis bila outlet pressure naik.  Pompa jenis ini biasa digunakan pada aplikasi dengan pressure rendah seperti water pump.

Centrifugal impeller pump terdiri dari dua komponen dasar yaitu: impeller yang diikat pada input shaft  dan housing. Impeller mempunyai sebuah cakram dengan sudu-sudu yang melengkung yang dicetak pada sisi input-nya.

Demkian tentang jenis-jenis hydraulic pump pada alat berat, semoga bermanfaat.

Sabtu, 17 Desember 2016

Fungsi Oli Hidrolik

        Sistem hidrolik merupakan suatu bentuk perubahan atau pemindahan daya dengan menggunakan media penghantar berupa fluida cair untuk memperoleh daya yang lebih besar dari daya awal yang dikeluarkan. Dimana fluida penghantar ini dinaikan tekanannya oleh pompa pembangkit tekanan yang kemudian diteruskan ke silinder kerja melalui pipa-pipa saluran dan katup-katup. 
                Adapun  Fungsi utama dari hydraulic fluid (oil) adalah:
1. Transmitting power (Meneruskan Tenaga)
Karena hydraulic fluid tidak dapat dikompres, sekali hidrolik sistem ter-isi dengan fluida, seketika itu juga meneruskan power dari satu area ke area yang lain. Akan tetapi bukan berarti semua fluida mempunyai efisiensi yang sama dalam meneruskan power, sebab masing-masing fluida mempunyai sifat khusus sendiri-sendiri. Pemilihan hydraulic fluid yang benar tergantung dari pemakaian dan kondisi pengoperasian.


2. Lubricating (Melumasi)
Hydraulic fluid (oil) harus bisa melumasi komponen-komponen yang bergerak dalam sebuah hidrolik sistem. Komponen-komponen yang berputar atau meluncur harus bisa berfungsi dengan baik tanpa harus bersentuhan dengan komponen yang lain. Hydraulic oil harus bisa mempertahankan oil film di antara dua permukaan untuk mencegah gesekan, panas dan keausan.

3. Sealing (Menutupi)
Banyak komponen-komponen hidrolik di-design dengan menggunakan hydraulic oil dari pada mekanikal seal dalam komponen. Viskositas (kekentalan) dari oil akan membantu menentukan kemampuannya untuk melapisi.
4. Cooling
Hidrolik sistem menghasilkan panas bila sedang mengubah mekanikal energi ke hidrolik energi atau sebaliknya, Pada saat oil bergerak melalui sistem, panas akan merambat dari komponen-komponen yang lebih hangat ke cooler. Oil akan memberikan panas tersebut ke reservoir atau cooler yang telah di-design untuk menjaga oil temperature tidak melebihi batas.

5. Cleaning
Fungsi lain dari oil adalah membersihkan. Meskipun pada hidrolik tank sudah ada filer screen, bukan tidak mungkin kotoran debu akan masuk ke dalam sistem. Kotoran-kotoran ini akan dibawa oleh oil menuju ke tangki yang kemudian akan ditangkap oleh filter yang ada di dalam tangki.

Selain fungsi-fungsi tersebut di atas cairan hidrolik (oil) juga bisa mencegah karat dan korosi pada komponen-komponen metal, mencegah oil membentuk buih dan oksidasi, memisahkan udara, air serta kotoran yang lain dan juga menjaga oil dari perubahan temperature yang besar.

Demikian pembahasan tentang fungsi oli hidrolik, semoga bermanfaat.